Selasa, 11 Juni 2013

Infeksi yang menyertai Kehamilan dan Persalinan


INFEKSI YANG MENYERTAI KEHAMILAN & PERSALINAN
*      SIFILIS
INFEKSI SIFILIS (LUES) adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh Triponema pallidum. Jika terjadi pada ibu hamil maka disebut sifilis kongenital dan sifilis ini merupakan bentuk penyakit sifilis yang terberat. Infeksi pada janin dapat terjadi setiap saat dalam kehamilan dengan derajat resiko infeksi yang tergantung jumlah spiroketa (triponema) di dalam darah ibu.
Angka kejadian yang tinggi terdapat pada kelompok wanita tuna susila. Wanita yang berhubungan seksual dengan pasangannya yang menderita sifilis mempunyai resiko 50% untuk dapat tertular penyakit ini.
Etiologi
Sifilis disebabkan oleh infeksi Triponema pallidum.

Klasifikasi
Pembagian sifilis secara klinis ialah sifilis kongenital dan sifilis didapat atau dapat pula digolongkan berdasarkan stadium I, II, III sesuai dengan gejala-gejalanya :

1. Sifilis Stadium I
Tiga minggu (10-90 hari) setelah infeksi timbul lesi, berukuran beberapa mm sampai 1-2 cm, berbentuk bulat atau bulat lonjong, merah, dan bila diraba seperti ada pengerasan (indurasi), kelainan ini tidak ada nyeri.
2. Sifilis Stadium II
Pada umumnya bila gejala sifilis II muncul, sifilis stadium I sudah sembuh. Waktu antara sifilis stadium I dan II umumnya 6-8 minggu. Sifat yang khas pada sifilis ialah jarang ada rasa gatal, terdapat nyeri pada kepala, demam subfebril, anoreksia, nyeri pada tulang, nyeri leher biasanya mendahului, kadang-kadang bersamaan dengan kelainan pada kulit (berupa makula, papul, pustul dan rupia).

 3. Sifilis Stadium III
Lesi yang khas adalah guma yang dapat terjadi 3-7 tahun setelah infeksi. Guma umumnya satu, dapat multipel, ukuran miliar sampai berdiameter beberapa centimeter, berbentuk nekrosis sentral. Guma mengalami supurasi dan memerah serta meninggalkan suatu ulkus dengan dinding curam dan dalam.
Sifilis stadium ini dapat merusak semua jaringan, tulang rawan pada hidung dan palatum. Guma juga dapat ditemukan di organ dalam, yakni lambung, hepar, lien, paru, testis dan lain-lain.

Cara Penularan Sifilis
1. Secara Langsung
- Melalui kontak langsung dengan lesi yang mengandung triponema.
- Melalui hubungan seksual.
- Dari darah ibu ke janin melalui plasenta saat kehamilan.
2. Secara Tidak Langsung
- Melalui transfusi darah.
- Melalui alat-alat yang terkontaminasi dengan virus triponema.

Pengaruh Sifilis terhadap Kehamilan dan Persalinan
Apabila infeksi terjadi pada kehamilan, maka luka primer di daerah genital mungkin tidak dapat dikenal karena tempatnya atau kecilnya. Sebaliknya luka itu dapat lebih besar daripada biasa, yang mungkin disebabkan karena vaskularisasi alat kelamin yang lebih banyak pada kelamin. Pengaruh sifilis pada janin dapat menyebabkan antara lain :
- Kematian janin
- Partus immaturus
- Partus premature

Pengaruh terhadap janin:                                            
1.      Kematian janin (IUFD)
2.      Partus immaturus
3.      Partus prematurus
4.      Kelainan congenital

Dalam hal demikian dapat dijumpai gejala-gejala sifilis kongenital, diantaranya:
1.      Pemfigus sifilitikus
2.      Deskwamasi pada telapak kaki dan tangan
3.      Rhagades di kanan-kiri mulut
4.      Pada persalinan tampak janin atau plasenta yang hidropik
5.      Pada pemeriksaan ditemukan reaksi serologis yang positif

              Pada persalinan tampak janin atau plasenta yang hidropik, karena itu pada waktu pemeriksaan kehamilan (ANC) perlu dilakukan anamnesis tentang kemungkinan adanya kontak sederhana dengan penderita sifilis.

Pemeriksaan
  • Pemeriksaan lapangan gelap (Direct Fluorescent Antibody Test)
  • Tes skrining serologis ® Test Slide VDRL (Venerial Disease Research) Laboratory) / RPR (Rapid Plasma Readgin)
  • FTA-ABS (Fluorescent Trepnemal Antibody Absorption Test)
  • Tes antibodi HIV
 PENATALAKSANAAN
1.  Sifilis harus diobati segera setelah diagnosa dibuat , tanpa memandang tuanya kehamilan. Lebih dini dalam kehamilan pengobatan diberikan, lebih baik prognosis bagi janin.
2.   Pengobatan sifilis dalam kehamilan dilakukan dengan penicilin, dan apabila penderita tidak tahan (alergi) penicilin, dapat diberikan secara desensitiasi. Eritromisin tidak dianjurkan karena besar kemungkinan akan gagal untuk mengobati infeksi pada janin.
3.   Untuk sifilis primer, sekunder, dan laten dini (kurang dari 1 tahun), dianjurkan mendapat Benzathine penicilin G dengan dosis 2,4 juta satuan IM sekali suntik ( separuh di kanan dan separuh di kiri). Untuk sifilis lama (late sifilis) diperlukan dosis yang lebih tinggi. Dosis tunggal penicilin di atas umumnya sudah cukup untuk melindungi janin dari penderitaan sifilis.
Abortus atau kematian janin selama atau tidak lama setelah pengobatan biasanya tidak disebabkan karena gagalnya pengobatan, tetapi karena pengobatan terlambat diberikan.
4.   Suami juga harus diperiksa darahnya dan bila perlu diobati. Bila ragu, darah tali pusat juga diperiksa.
5.  Follow up bulanan melalui pemeriksaan serologik perlu dilakukan sehingga bila perlu pengobatan uang dapat segera diberikan.
6.  Bayi yang lahir dari ibu dengan sifilis boleh tetap mendapat ASI. Bila ibu tersebut masih menderita lesi pada kulit, kontak dengan bayinya harus dihindari.

Terapi :
- Suntikan penisilin G, secara ini sebanyak 1 juta satuan perhari selama 8-10 hari.
- Obat-obatan peroral penisilin dan eritromisin.
- Lues kongenital pada neonatus:
- Penisilin G 100.000 satuan/kg BB sekaligus.

·         CYTOMEGALOVIRUS (CMV)
Cytomegalovirus adalah virus DNA dan merupakan kelompok dari family virus herpes, sehingga memiliki kemampuan latensi. Pada infeksi CMV, infeksi maternal atau ibu hamil kebanyakan bersifat silent, asimtomatik tanpa disertai keluhan klinik atau gejala, atau hanya menimbulkan gejala yang minim bagi ibu, namun dapat memberi akibat yang berat bagi fetus yang dikandung, dapat pula menyebabkan infeksi kongenital, perinatal, bagi bayi yang dilahirkan.
Virus ditularkan melalui berbagai cara, antara lain:
  • transfusi darah
  • transplantasi organ
  • kontak seksual
  • air susu
  • air seni
  • Percikan Ludah atau air liur (saliva)
  • Urine
  • transplansental atau kontak langsung saat janin melewati jalan lahir pada persalinan pervaginam. 
Diagnosis
Virus dapat diisolasi dari biakan urin atau biakan berbagai cairan atau jaringan tubuh lain. Tes serologis mungkin terjadi peningkatan Ig M yang mencapai kadar puncak 3-6 bulan pasca infeksi dan bertahan sampai 1-2 tahun kemudian. Ig G meningkat secara cepat dan bertahan seumur hidup.
a.      Prenatal  
            Efek infeksi pada janin dideteksi dengan USG,CT Scan atau MRI. Dapat dijumpai mikrosefalus, ventrikulomegali atau kalsifikasi serebrum. Amniosintesis dilakukan untuk biakan virus atau kardosintesis untuk mendeteksi IgM dalam memastikan kecurigaan kasus infeksi primer.

b.      Maternal
      Dengan mengisolasi virus dalam biakan urine/sekresi atau uji serologi.

Dampak Terhadap Kehamilan
            Resiko transmisi dari ibu ke janin konstan sepanjang masa kehamilan dengan angka sebesar 40-50%. 10-20% neonatus yang terinfeksi memperlihatkan gejala-gejala, antara lain: korioretinitis, mikrosephali, klasifikasi serebral, hepatosplenomegali, hidrosephalus. 80-90% tidak menunjukkan gejala namun kelak di kemudian hari dapat menunjukkan gejala: retardasi mental, gangguan visual, dan gangguan psikomotor. Seberapa besar kerusakan janin tidak tergantung saat kapan infeksi menyerang janin. 
Tidak terdapat bukti bahwa kehamilan meningkatkan resiko. Risiko penularan pada janin tertinggi dalam trimester pertama dan kedua,sementara infeksi trimester ketiga biasanya tanpa gejala sisa. Infeksi 10-20 % simtomatik sewaktu: IUGR,karioretinitis, mikrosefali, pengapuran otak, hepato plasmomegali dan hidrosepalus. Infeksi 80-90 % asimtomatik sewaktu lahir, tetapi menunjukkan keterbelakangan mental seperti gangguan visual, tetapi, kehilangan pendengaran yabg progresif dan perkembangan psikomotorik terlambat.
Penatalaksanaan
Tidak ada terapi yang efektif untuk cytomegalovirus dalam kehamilan. Pencegahan meliputi penjagaan kebersihan pribadi dan mencegah transfusi darah. Usaha untuk membantu diagnosa infeksi CMV pada janin adalah dengan melakukan:
1.      Ultrasonografi
2.      Pemeriksaan biakan cytomegovirus dalam cairan amnion

Pencegahan
      Kesehatan perlu dijaga dengan Kesehatan perlu dijaga dengan baik pada situasi yang berisiko tinggi. Misalnya tersedianya unit rawat intensif neonatal, pusat rawat  berobat jalan dan unit dialysis. Transfuse ibu dengan darah positif CMV harus dihindari.

Pemeriksaan Laboratorium
·         Anti CRV IgM dan IgG dan IgG aviditas
·         Pemeriksaan dilakukan pada saat ibu merencanakan kehamilan jika hasil pemeriksaansebelumnya negative

Hasil dan Tindak Lanjut
·         IgM (-) : periksa ulang beberapa minggu kemudian, jika hasil tetap IgM (-) berarti tidak terifeksi dan lakukan langkah pencegahan. Sementara itu, jika IgG (+) : lakukan pemeriksaan konfirmasi IgM dan IgG aviditas, jika IgM (+) dan IgG rendah berarti infeksi primer perlu pemeriksaan lebih lanjut apakah janin terinfeksi atau tidak.
·         IgG (+): berarti sudah pernah terinfeksi dimasa lalu, karena itu sudah kebal terhadap CRV. Tidak diperlukan pemeriksaan lanjut,pada kehamilan berikut untuk melihat jumlah titer IgG, apakah masih mencukupi atau tidak.

·        Rubella
Rubella ( campak jerman) adalah infeksi virus yang dapat menyebabkan infeksi kronik intrauterine, mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, rubella disebabkan oleh virus plemorfis yang mengandung RNA. Virus ini ditularkan melalui droplet dari ibu hamil kepada janin.

A.    Tanda dan gejala
 1.      Demam ringan, pusing dan mata ringan
 2.      Sakit tenggorokan
 3.      Ruam kulit setelah demam turun (warna merah jambu)
 4.      Kelenjar limfe membengkak
 5.      Persendian bengkakdan nyeri pada beberapa kasus
 6.      Fotofobia
 7.      Abortus spontan
 8.      Radang arthritis atau ensefalitis
 9.      Pada ibu hamil kadang tanpa gejala

B.     Dampak pada kehamilan

·         Insidensi anomaly congenital: bulan pertama 50%, bulan kedua 25%, bulan ketiga 10% dan bulan keempat 4%. Pemaparan pada bulan pertama dapat menyebabkan malformasi jantung, mata, telinga, atau otak. Pemaparan bulan keempat: infeksi sistemik,retardasi pertumbuhan intrauterine.


·         Infeksi rubella congenital dapat menyebabkan sindron rubella congenital yang terdiri atas hal-hal berikut ini.
ü  Pertumbuhan janin yang terhambat (merupakan kondisi yang paling sering terjadi)
ü  Katarak yang dapat terjadi pada satu atau kedua mata. Katarak adalah pemutihan lensa mata sehingga mengakibatkan kebutaan menetap. Kelainan katarak ini biasanya disertai dengan bola mata yang kecil
ü  Kelainan jantung bawaan
ü  Hilang fungsi pendengaran akibat proses infeksi yang terjadi pada saraf pendengaran
ü  Radang otak dan selaput otak

C.     Pengobatan
Tidak ada obat spesifik untuk mengobati infeksi virus rubella. Obat yang diberikan biasanya bersifat untuk meringankan gejala yang timbul. Hanya saja pada anak-anak dan orang dewasa, gejala-gejala yang timbul adalah sangat ringan. Bayi yang lahir dengan sindrom rubella congenital, biasanya harus ditangani secara sekama oleh para ahli.
Semakin banyak kelainan bawaan yang diderita akibat infeksi congenital, semakin besar pula pengaruhnya pada proses pertumbuhan dan perkembangan anak.bayi lahir yaitu dengan terdeteksinya IgM Rubella pada darah bayi.

D.    Pencegahan penularan virus rubella
Cara yang paling efektif untuk mencegah penularan virus rubella adalah dengan pemberian imunisasi. Saat ini imunisasi yang dapat diberikan untuk mencegah rubella adalah dengan pemberian vaksin MMR pada wanita usia reproduksi yang belum mempunyai antibody terhadap virus rubella amatlah penting untuk mencegah terjadinya infeksi rubella congenital pada janin. Setelah pemberian imunisasi MMr, penundaan kehamilan harus dilakukan selama 3 bulan.

E.     Pemeriksaan Laboratorim
ü  Anti Rubella IgM dan IgG bila perlu
ü  Pemeriksaan penyaring (skirining) dilakukan saat ibu merencanakan kehamilan, awal kehamilan (minggu 1-17), wanita hamil yang dicurigai kontak dengan virus atau terdapat gejala klinis

F.      Hasil dan tindak lanjut
*        IgG (+): sudah pernah terinfeksi dimasa lalu sehingga sudah kebal terhadap Rubella. Tidak diperlukan pemeriksaan lanjut sampai dengan kehamilan berikut
*        IgM (-), IgM(-)/(+): periksa ulang1-4 minggu kemudian jika hasil tetap IgG (-),IgM(-) berarti belum pernah terinfeksi , oleh karena itu  daaan hind danari sumber infeksi dan lakukan vaksinasi jika kehamilan belum terjadi. Sementara itu jika IgG (+) dam IgM (+) berarti infeksi baru terjadi pertama kali. Jika IgG (-) berarti IgM tidak spesifik dan belum pernah terinfeksi. Oleh karena itu lakukan tindakan preventif dan vaksinasi jika kehamilan belum terjadi.

*    Varicella
varicella atau cacar air adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh virus varizella zoster . organ tubuh yang diserang adalah kulit, selaput lender mata dan mulut serta kerongkongan dan organ  lain misalnya otak. Penyakit ini dapat menyerang semua umur, tetap anak-anak lebih sering terkena.

Cara penularan
  Varicella cepat menular. Kejadian penularan pada orang lain sejak 1-2 hari sebelum munculnya ruam sampai dengan membentuk kerompeng.

Beberapa bahaya dab komplikasi dari varicella:
§  Pada anak
Paling sering terjadi infeksi pada kulit,
enchepalitis (radang otak) dan pneumonia
§  Pada ibu hamil
o   Trimester I dan II, keguguran bayi lahir mati, bayi cacat,BBLR, cacar air pada masa bayi.
o   Trimester III, bila > 6 hari sebelum melahirkan maka bayi akan terkena cacar air ringan. Bila < 6 hari sebelum atau 2 hari sesudah melahirkan, bayi akan mengalami cacarair bahkan bisa meninggal.

Dampak Terhadap Kehamilan
5-10% wanita dewasa rentan terhadapa infeksi virus varicella zoster. Infeksi varicela akut terjadi pada 1:7500 kehamilan. Komplikasi maternal yang mungkin terjadi:
1.      Persalinan preterm
2.      Ensefalitis
3.      Pneumonia

Pencegahan
Vaksinasi merupakan langkah bijaksana dalam perlindungan terhadap virus varicella zoster dan komplikasinya. Vaksin dapat diberikan sedini mungkin, namun apabila dikehendaki orang tua,vaksin dapat diberikan setelah umur > 1 tahun. Apabila vaksin diberikan pada umur >13 tahun, maka imunisasi diberikan 2 kali dengan 4-8 minggu.

GEJALA KLINIS
1.      Masa inkubasi 10-21 hari.
2.      Pada anak yang berumur lebih muda jarang disertai gejala prodromal.
3.      Pada anak yang berumur lebih tua dan orang dewasa, lesi kulit muncul 2-3 hari setelah demam, malaise, sakit kepala, anoreksia.
4.      Lesi awal terutama pada badan kemudian menyebar ke muka dan ekstremitas juga dapat mengenai selaput lendir.
5.      Lesi berupa makula eitema dalam beberapa jam akan berubah jadi papula, vesikula, pustula, dan krusta.
6.      Sementara proses berlangsung muncul lagi vesikel baru sehingga menimbulkan gambaran yang polimorf.
    
*    Toxoplasmosis
     Toxoplasmosis adalah suatu infeksi protozoa Toxoplasma gondii, yangbiasanya terjadinya melalui kontak dengan tinja kucing, makan makanan mentah, atau makanan daging yang terkontaminasi dengan toxo ini.
Hanya sekitar 20% wanita hamil dengan toxoplasmosis yang menunjukkan gejala dari penyakit ini. Tetapi jika seorang wanita terinfeksi sesaat sebelum atau selama kehamilan, maka kemungkinan sekitar 40-50% untuk menularkan ke bayi dalam kandungannya, walaupun ibu hamil sendiri tidak tanpa sakit.             
GEJALA KLINIS
1.      Demam.
2.      Sakit kepala.
3.      Badan lemah.
4.      Pembekakan kelenjar getah bening.
5.      Penglihatan terganggu.
6.      Disorientasi.
7.      Gemetar.
8.      Kejang.

DAMPAK TERHADAP KEHAMILAN
Resiko terjadinya kelainan berat pada janin lebih besar bila terinfeksi di trimester pertama dan kedua. Namun, kemungkinan tertular di trimester ini lebih rendah dibanding di trimester akhir.
Bila terinfeksi,janin menghadapi resiko seperti:
1.      Kelainan sistemik, seperti: kuning, pembesaran hati dan limfa, juga perdarahan
2.      Kelainan syaraf mata
3.      Gangguan fungsi syaraf pusat (gangguan kecerdasan dan keterlambatan bicara)
4.      Cacat bawaan, seperti pembesaran kepala (hydrocephalus)
5.      Keguguran


*    Infeksi Traktus Urinarius
Infeksi traktus urinarius adalah bila ada pemeriksaan urin ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 10.000 per ml. Urin yang diperiksa harus bersih, segar, dan diambil dari aliran tengah (midstream) atau diambil dengan fungsi supra simphisi.
Infeksi saluran kencing adalah infeksi bakteri yang paling sering dijumpai pada kehamilan. Walaupun bakteri uria asimtomatik merupakan hal biasa, infeksi simtomatik dapat mengenai salran bawah yang menyebabkan sisititis, atau menyerang kaliks, pelvis, dan parenkim ginjal sehingga mengakibatkan pielonefritis.
Organisme yang menyebabkan infeksi saluran kemih berasal dari flora normal perineum. Sekarang terdapat bukti bahwa beberapa galur escherichia coli memiliki pili yang meningkatkan virulensinya. Walaupun kehamilan itu sendiri tampaknya tidak meningkatkan factor-faktor virulensi ini, stasis air kemih tampaknya menyebabkan hal itu, dan bersam dengan revluksvesikoureter, stasis mempermudah timbulnya gejala infeksi saluran kemih bagian atas.
Overdistensi yang disertai kateterisasi untuk mengeluarkan air kemih sering menyebabkan infeksi saluran kemih.

1)   BAKTERIURIA ASIMPTOMATIK
Ditemukan bakteri sebanyak >100.000 per ml air seni daari sediaan air seni. Angka kejadian bakteriuria asimptomatik dalam kehamilan sama seperti wanita usia reproduksi yang seksual aktif dan non pregnant sekitar 2-10%. Jenis bakteri yang ditemukan:
1.      Eschericia coli (60%)
2.      Proteus mirabilis
3.      Klebsiella pneumoniae
4.      Streptococus grup B.
Bila bakteriuria asimptomatik tidak diterapi dengan baik maka 20% ibu hamil akan menderita sistisis akut atau pielonefritis akut pada kehamilan lanjut.
o   Ampisilin 3x500 mg selama 7-10 hari.
o   Cephalosporin.
o   Nitrofurantoin.
Setelah terapi, lakukan pemeriksaan ulangan dengan biakan urin oleh karena kejadian ini seringkali berulang (25%).

2)   SISTISIS AKUT
Sistsis merupakan peradangan kandung kemih tanpa disertai radang pada bagian saluran kemih, biasanya inflamasi akibat bakteri. Terjadi pada 1-2% kehamilan. Tanda dan gejala:
1.      Hampir 95% mengeluh nyeri pada daerah supra simphisis atau nyeri saat berkemih.
2.      Frekuensi berkemih meningkat tetapi jumlahnya sedikit sehingga menimbulkan rasa tidak puas dan tuntas.
3.      Air kencing kadang terasa panas.
4.      Air kencing berwarna lebih gelap dan serangan akut kadang-kadang berwarna kemerahan.
5.      Ditemukan banyak eritrosit dan leukosit pada pemeriksaan laboratorim.

Penatalaksanaan:
1.      Anjurkan ibu untuk banyak minum.
2.      Atur frekuensi berkemih untuk mengurangi sensasi nyeri, spasme, dan rangsangan untuk selalu berkemih (tetapi dengan jumlah urin yang minimal). Makin sering berkemih, nyeri dan spasme akan makin bertambah.
3.      Terapi antibiotik yang dipilih, mirip dengan pengobatan bakteriuria asimptomatik. Apabila antibiotika tunggal kurang memberikan manfaat, berikan antibiotika kombinasi. Kombinasi tersebut dapat berupa jenis obatnya ataupun cara pemberiannya, misal: amoksisilin 4x250 mg per oral, digabung dengan gentamisisn 2x80mg secara IM selama 10-14 hari. Dua hingga 4 minggu kemudian dilakukan penilaian laboratorium untuk evaluasi pengobatan.
4.      Untuk pencegahan infeksi berulang berikan nitrofurantoin 100 mg/hari setiap malam sampai sesudah  2 minggu post partum.

3)   PIELONEFRITIS AKUT
Pielonefritis akut merupakan salah satu komplikasi yang sering dijumpai dalam kehamilan dan frekuensinya kira-kira 2%, terutama pada kehamilan terakhir dan permulaan masa nifas. Infeksi ini biasanya disebabkan oleh E. Coli dan dapat pula oleh kuman-kuman lain seperti Stafilokokus aureus, Basillus proteus, dan Pseudomonas aerugenosa. Kuman dapat menyebar secara hematogen atau limfogen,  akan tetapi terbanyak dari kandung kemih.
Gejala yang penting diperhatikan:
1.      Pielonefritis akut ditandai dengan gejala demam, menggigil, mual, dan muntah, nyeri pada daerah kostovertebra atau pinggang. Sekitar 85% kasus suhu tubuh melebihi 38 derajat celcius dan sekitar 12% suhu tubuhnya mencapai 40 derajat selcius.
2.      Sering disertai mual, muntah, dan anoreksia.
3.      Kadang-kadang diare.
4.      Dapat juga jumlah urin berkurang.
5.      Pemeriksaan air kemih menunjukkan banyak sel-sel leukosit dan bakteri.

 PENATALAKSANAAN:
1.      Ibu hamil dengan pielonefritis akut, hardirawatinapkan. Karena penderita sering mengalami mual dan muntah, mereka umumnya datang dengan keadaan dehidrasi.
2.      Bila ibu datang dengan keadaan syok, segera lakukan pemasangan infus untuk restorasi cairan dan pemberian medikamentosa. Pantau TTV dan diuresis secara berkala.
3.      Bila terjadi ancaman partus prematurus, lakukan pemberian antibiotika seperti yang telah diuraikan di atas dan penatalksanaan partus prematurus.
4.      Terapi kombinasi antibiotika yang efektif adalah gabungan sefoksitin 1-2 gram intravena setiap 6 jam dengan gentamisin 80 mg IV setiap 12 jam. Ampisilin 2 gram/ ciproksin 2 gram IV dan gentamisisn 2x80 mg.


4)   STREPTOCOCCUS GRUP B (GBS)
GBS adalah flora normal manusia dengan reservoir utama di traktus digestivus. GBS dapat masuk ke dalam traktus urinarius utama di traktus digestivus melalui kontaminasi feses atau kontak seksual.
DAMPAK terhadap kehamilan:
1.      Penularan dari ibu ke anak dapat terjadi secara vertikal saat persalinan dengan faktor resiko penularan:
-  Persalinan preterm.
-  Ketuban pecah dini (KPD)
-  BBLR
-  Febris intrapartum

*    Hepatitis
Hepatitis infeksiosa disebabkan oleh virus dan merupakan penyakit hati yang paling sering dijumpai dalam kehamilan.  Pada wanita hamil, penyebab hepatitis infeksiosa terutama oleh virus hepatitis B.  walaupun kemungkinan juga dapat karena virus hepatitis A atau Hepatitis C.  hepatitis virus dapat terjadi pula setiap satt kehamilan dan mempunyai pengaruh buruk pada janin maupun ibunya.  Pada trimester I dapat terjadi keguguran, akan tetapi jarang dijumpai kelainan congenital (anomaly pada janin).  Sedangkan pada trimester II dan III sering terjadi premature. 
Tidak dianjurkan untuk melakukan terminasi kehamilan dengna induksi atau SC, karena akan mempertinggi risiko pada ibu.  Pada hepatitis B janin kemungkinan dapat tertular melalui plasenta, waktu lahir, atau masa neonatus; walaupun masih kontroversi penularan melalui air susu.

Penatalaksanaan
§  Istirahat, diberi nutrisi dan cairan yang cukup, bila perlu IV
§  Isolasi cairan lambung dalam atau cairan badan lainnya dan ingatkan tentang pentingnya janin dipisahkan dengan ibunya
§  Periksa HbsAg
§  Kontrol kadar bilirubun, serum glutamic oksaloasetik transaminase (SGOT), serum glutamic piruvic transaminase (SGPT), factor pembekuan darah, karena kemungkinan telah ada disseminated intravascular coagulapathy (DIC)
§  Cegah penggunaan obat-obat yang bersifat hepatotoksik Pada ibu yang HbsAg positif perlu diperiksa HbsAg anak karena kemungkinan terjadi penularan melalui darah tali pusat
§  Tindakan operasi seperti SC akan memperburuk prognosis ibu
§  Pada bayi yang baru dilahirkan dalam 2×24 jam diberi suntikan anti hepatitis serum

*    HIV/AIDS
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehamilan dapat memperberat kondisi klinik wanita dengan infeksi HIV.  Sebaliknya, risiko tentang hasil kehamilan pada penderita infeksi HIV masih merupakan tanda tanya.  Transmisi vertical virus AIDS dari ibu kepada janinnya telah banyak terbukti, akan tetapi belum jelas diketahui kapan transmisi perinatal tersebut terjadi.  Penelitian di AS dab Eropa menunjukkan bahwa risiko transmisi perinatal pada ibu hamil adalah 20-40%. 
Transmisi dapat terjadi melalui plasenta, perlukaan dalam proses persalinan, atau melalui ASI.  Walaupun demikian, WHO menganjurkan agar ibu dengna HIV positif  tetap menyusui bayinya mengingat manfaat ASI yang cukup besar dibandingkan dengan risiko penularan HIV.
Bila telah terdiagnosis adanya AIDS perlu dilakukan pemeriksaan apakah ada infeksi PMS lainnya, seperti gonorrhea, chlamydia, hepatitis, herpes, ataupun infeksi toksoplasmik, CMV, TBC dan lain-lain.
Penderita AIDS mempunyai gejal awal yang tidak spesifik seperti fatique, anoreksia, BB menurun, atau mungkin menderita candidiasis orofaring maupun vagina.  Kematian pada ibu hamil dengan HIV positif kebanyakan disebabkan oleh penyakit oportunisyik yang menyetainya, terutama pneumocystis carinii pneumonia.
Sampai saat ini belum ada pengobatan AIDS yang memuaskan.  Pemberian AZT (Zidovudine) dapat memperlambat kematian dan menurunkan frekuensi serta beratnya infeksi oportunistik.  Pengobatan infeksi HIV dan penyakit oportunisyiknya dalam kehamilan merupakan masalah, karena banyak obat belum diketahui dampak buruknya dalam kehamilan.  Dengan demikian, pencegahan menjadi sangat penting peranannya, yaitu hubungan seksual yang sehat, menggunakan alat kontrasepsi, dan mengadakan tes terhadap HIV sebelum kehamilan.

Dalam persalinan, SC bukan merupakan indikasi untuk menurunkan risiko infeksi pada bayi yang dilahirkan.  Penularan kepada penolong persalinan dapat terjadi dengan rate 0-1% pertahun exposure.  Oleh karena itu dianjurkan untuk melaksanakan upaya pencegahan terhadap penularan infeksi bagi petugas kamar bersalin sebagai berikut:
ü Gunakan pakaian, sarung tangan dan masker yang kedap air dalam menolong persalinan
ü Gunakan sarung tangan saat menolong bayi
ü Cucilah tangan setelah selesai menolong penderita AIDS
ü Gunakan pelindung mata (kacamata)
ü Peganglah plasenta dengan sarung tangan dan beri label sebagai barang infeksius
ü Jangan menggunakan penghisap lendir bayi melalui mulut
ü Bila dicurigai adanya kontaminasi, lakukan konseling dan periksa antibody terhadap HIV serta dapatkan AZT sebagai profilaksis

Perawatan pascapersalinan perlu diperhatikan yaitu kemungkinan penularan melalui pembalut wanita, lochea, luka episiotomi ataupun luka SC.  Untuk perawatan bayi, sebaiknya dilakukan oleh dokter anak yang khusus untuk menangani kasus ini.  Perawatan ibu dan bayi tidak perlu dipisah, harus diusahakan agar pada bayi tidak dilakukan tindakan yang membuat perlukaan bila tidak perlu betul, misalnya jangan lakukan sirkumsisi. 
Perawatan tali pusat harus dijalankan dengan cermat.  Imunisasi yang menggunakan virus hidup sebaiknya ditunda sampai terbukti bahwa bayi tersebut tidak menderita virus HIV.  Antibodi yang didapatkan pasif dari ibu akan dapat bertahan sampai 15 bulan.  Jadi diperlukan pemeriksaan ulang berkala untuk menentukan adanya perubahan ke arah negatif atau tidak.  Infeksi pada bayi mungkin baru tampak pada usia 12-18 bulan.

*    Typus Abdominalis
Typus abdominalis dalam kehamilan, dan nifas menunjukan angka kematian yang lebih tinggi dari pada di luar kehamilan. Penyakit ini mempunyai pengaruh buruk terhadap kehamilan. Dalam 60-80 % hasil konsepsi keluar secara spontan : lebih dini terjadinya infeksi dalam kehamilan, lebih besar kemungkinan berakhirnya kehamilan.
Pengobatan dengan kloramfenikol atau tiamfenikol (Urfamycin) biasanya cukup manjur. Waktu ada wabah, semua wanita hamil perlu diberi vaksinasi. Walaupun kuman-kuman tifus abdominalis tidak di keluarkan melalui air susu, namun sebaiknya penderita tidak menyusui bayinya karena keadaan umum ibu biasanya tidak mengizinkan, dan karena kemungkinan penularan oleh ibu melalui jalan lain tetap ada. Tifus abdominalis tidak merupakan indikasi bagi abortus buatan.
Typhus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, gangguan kesadaran, dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12-13 tahun (70%-80%), pada usia 30-40 tahun (10%-20%) dan diatas usia pada anak 12-13 tahun sebanyak (5%-10%).

ETIOLOGI
Penyebab penyakit ini adalah Salmonella paratyphi A,dan Salmonella paratyphi A, dan Salmonella paratyphi B. Basil gram negatif, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora, mempunyai 3 macam antigen, yaitu: antigen O, antigen H, dan antigen Vi. Dalam serum penderita terdapat zat (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut. Kuman tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob pada suhu 15oC – 41o C (optimum 37oC) dan pH pertumbuhan 6-8.

TANDA DAN GEJALA KLINIS
1.      Demam
Pada minggu pertama demam berangsur naik berlangsung pada 3 minggu pertama terutama pada sore dan malam hari, pada minggu ke-2 suhu tubuh terus menigkat, dan pada minggu ke-3 suhu berangsur-angsur turun dan kembali normal. Demam tidak hilang dengan pemberian antiseptik, tidak menggigil, dan tidak berkeringat. Kadang pasien disertai epitaksis.
Gangguan pada saluran pencernaan
-          Halitosis
-          Bibir kering
-          Lidah kkotor berselaput putih
-          Perut agak kembung
-          Mual
-          Splenomegali disertai nyeri pada perabaan
-          Pada permulaan umumnya terjadi diare, kemudian menjadi obstipasi.

Gangguan kesadaran
-          Kesadaran menurun ringan sampai berat.
-          Umumnya apatis.
-          Bradikardi relatif.
-          Umumnya tiap kenaikan 1 derajat celcius diikuti penambahan denyut nadi 10-15 kali per menit.
Gejala lain
Cepat lelah, malaise, sakit kepala, rasa tidak enak di perut, nyeri seluruh tubuh. Gejala-gejala tersebut dirasakan antara10-14 hari.
KOMPLIKASI
Pada usus halus
Jarang terjadi tapi sering fatal akibatnya, yaitu:
-          Perdarahan usus: jika perdarahan banyak maka terjadi melena (keluarnya feses hitam yang diawali oleh darah yang berubah) disertai nyeri perut dan tanda renjatan.
-          Perforasi usus: timbul biasanya pada minggu ketiga terjadi pada bagian distal ileum.
-          Peritonitis: biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi. Ditemukan gejala abdomen yang akut yaitu nyeri perut yang sangat hebat, dinding abdomen yang tegang (defans muscular), dan nyeri tekan.
Di luar usus halus
Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis yaitu meningitis, kolesistitis, ensefalitis, bronchopneumonia (akibat infeksi sekunder), dehidrasi, dan asidosis.

PENATALAKSANAAN
1.      Isolasi pasien, disinfeksi pakaian.
2.      Perawatan yang baik untuk menghindari infeksi.
3.      Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu setelah suhu normal kembali (istirahat total) kemudian boleh duduk, jika tidak demam boleh berdiri terus berjalan.
4.      Diet makanan harus mengandung cukup cairan, kalori, dan tinggi protein.
5.      Bahan makanan tidak boleh banyak mengandung serat, tidak merangsang, dan tidak menimbulkan gas. Bila kesadaran pasien menurun diberikan makanan cair melalui sonde lambung.
6.      Obat pilihan adalah kloramfenikol dengan dosis tinggi yaitu 100 mg/kg BB/ hari (maksimum 2 gram per hari) diberikan 4 kali sehari per oral/ intravena kloramfenikol tidak boleh diberikan apabila jumlah leukosit ≤ 2000/ UI. Bila pasien alergi dapat diberikan penicillin/ kotrimoksazol.


1 komentar:

  1. Makalah
    INFEKSI YANG MENYERTAI KEHAMILAN DAN PERSALINAN

    Visit
    https://www.facebook.com/download/170233239826527/1.%20MAKALAH-%20Infeksi%20yang%20menyertai%20kehamilan%20dan%20persalinan.rar



    http://khasanahilmuu.blogspot.com/

    thx gan

    BalasHapus